Artikel

PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

 

Abdul Basith

IAIN Pekalongan

 

  1. Pendahuluan

Dalam suatu sistem pendidikan, kurikulum itu bersifat dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan agar dapat mengikuti perkembangan dan tantangan zaman. Meskipun demikian, perubahan dan pengembangannya harus dilakukan secara sistematis dan terarah, tidak asal berubah. Perubahan dan pengembangan kurikulum tersebut harus memiliki visi dan arah yang jelas, mau dibawa kemana sistem pendidikan nasional dengan kurikulum tersebut. Sehubungan dengan itu, sejak wacana perubahan dan pengembangan kurikulum 2013 digulirkan, telah muncul berbagai tanggapan dari berbagai kalangan baik yang pro maupun kontra[1]. Setelah mendapat berbagai masukan dari berbagai pihak, dengan berbagai modifikasi dan penyederhanaan, pemerintah optimis seluruh sekolah yang menerapkan K13 akan mudah mengimplementasikannya[2].

Terkait dengan motif pembelajaran bahasa Arab, setidaknya ada dua pandangan. Yang pertama adalah motif agama dengan memandang mempelajari bahasa sebagai sarana untuk mempelajari teks-teks keagamaan dan praktik ritual-ritualnya. Dengan pengetahuan yang memadai seseorang dapat mengetahui hal-hal terkait agama dari sumber yang orisinil. Sedangkan dalam praktik ritual, seseorang mempelajari bahasa Arab untuk dapat menjalankan ibadah shalat dan lainnya. Pandangan kedua memandang bahwa mempelajari bahasa Arab tidak berbeda dengan mempelajari bahasa asing lainnya, yaitu agar seseorang dapat berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Terlebih bahasa Arab merupakan salah satu bahasa internasional yang secara resmi digunakan dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Belajar bahasa Arab masih disajikan dengan model yang terkesan kaku, dengan menampilkan hafalan-hafalan yang panjang dan membosankan. Meskipun pembelajaran bahasa dapat dipastikan dengan cara menghafal sesuatu yang baru, tetapi bisa disajikan dengan model dan pendekatan yang memberikan pengalaman bagi peserta. Konsep belajar yang ditawarkan oleh kurikulum 2013, bisa menjadi harapan baru bagi dunia pembelajaran. Konsep pembelajaran terintegrasi dalam tiga aspek; sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.” Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa” (Pedoman K 13). Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik  (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

 

  1. Prinsip Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah berlaku sebelumnya. Titik perbedaan antara keduanya adalah titik tekan pembelajaran dan cakupan materi yang diberikan kepada peserta didik. Kurikulum 2013 berusaha memadukan antara kemampuan sikap, ketrampilan dan pengetahuan. Dengan demikian, sikap dan ketrampilan menjadi prioritas utama dari pada pengetahuan. Meskipun demikian, harapannya ketiga kemampuan tersebut dapat berjalan seimbang dan beriringan sehingga pencapaian pembelajaran dapat berhasil dengan maksimal.

Dalam rangka tujuan tersebut, pemerintah menetapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang dapat dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan pembelajaran:

  1. Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu
  2. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah
  3. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar
  4. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi
  5. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pebelajar sepanjang hayat
  6. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan(ing ngarsa sung tuladha), membangun kemauan (ing madya mangun karsa), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani)
  7. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat
  8. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas
  9. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran[3].

 

  1. Hakikat Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

            Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan peran serta peserta didik secara aktif dalam mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi dan menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan[4]. Yunus Abidin-setelah mengemukakan berbagai definisi dari para ahli-menyimpulkan bahwa pendekatan saintifik adalah model pembelajaran yang dilandasi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran yang diorientasikan guna membina kemampuan siswa memecahkan masalah melalui serangkaian aktifitas inkuiri yang menuntut kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif dan berkomunikasi dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa[5]. Penerapan model ini diharapkan akan mampu menghasilkan para peneliti muda di masa yang akan datang. Harapan ini tentu saja bukan sekedar isapan jempol karena pembelajaran yang dialami siswa senantiasa melibatkan siswa untuk melakukan kegiatan penelitian walaupun dalam konteks yang sesederhana sekalipun.  

Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi informasi dari guru sebesar 10 persen setelah lima belas menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen[6].

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Berpusat pada siswa
  2. Melibatkan ketrampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep , hukum atau prinsip
  3. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khusunya ketrampilan berpikir tingkat tinggi
  4. Dapat mengembangkan karakter siswa[7]

Langkah Pembelajaran

Karakter yang dikembangkan

Mengamati

Melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi

Menanya

Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat

Mengumpulkan informasi/eksperimen

 

Mengembangkan sikap teliti, jujur,sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.

Mengasosiasikan/ mengolah informasi/menalar

 

Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin,  taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan

Mengko-munikasi-kan

 

Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

 

 

  1. Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk jenjang SMP/MTs dan SMA/MA/SMK atau yang sederajat dilaksanakan menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

 

Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.” Ranah keterampilan  menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.” Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. 

Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi  tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini.

  1. Mengamati

Mengamati adalah kegiatan mengidentifikasi ciri-ciri objek tertentu dengan alat inderanya secara teliti. Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.

            Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat), mencium, dan meraba.

 

  1. Menanya

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.

Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal.

Kegiatan menanya dalam pembelajaran dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati, atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik)

 

  1. Mencoba/mengumpulkan informasi

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian/ aktivitas dan wawancara dengan nara sumber.  

 

  1. Menalar

Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.  Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.

Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan  antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu[8].

 

  1. Menganalisis Data dan Menyimpulkan

Kemampuan menganalisa data adalah kemampuan mengkaji data yang telah dihasilkan. Kemampuan menyimpulkan merupakan kemampuan membuat intisari atas seluruh proses kegiatan yang telah dilakukan.

 

  1. Mengkomunikasikan

Kemampuan ini adalah kemampuan menyampaikan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan baik secara lisan maupun tulisan. Dalam hal ini, peserta didik harus mampu menulis dan berbicara secara komunikatif dan efektif[9].

Dalam dataran praktis, keenam langkah tersebut dilaksanakan oleh guru dalam kegiatan inti yang dapat digambarkan sebagai berikut[10]:

 

No

Kegiatan Inti

Keterangan

1.

Peserta didik membaca teks qira’ah dalam hati (qira’ah shamitah)

Mengamati

2.

Tiap peserta didik mengajukan satu pertanyaan tentang teks qira’ah (terjemah kata, terjemah ungkapan/idiom, istilah, qawaid maupun isi teks)

Menanya

3.

Tiap peserta didik menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik yang lain secara bergantian

4.

Pendidik menyatakan bahwa teks qira’ah memiliki struktur isi, qawa’id, dan tujuan komunikasi (pesan) yang berbeda dengan teks yang lain. 

 

5.

Melalui diskusi kelompok, peserta didik dengan bimbingan pendidik mencoba mengidentifikasi struktur isi, qawa’id, dan tujuan komunikasi (pesan) dari teks qira’ah yang dibaca

Mencoba/mengumpulkan data

6.

Melalui diskusi kelompok, peserta didik dengan bimbingan pendidik mendiskusikan dan merumuskan temuannya tentang struktur isi, qawa’id, dan tujuan komunikasi (pesan) dari teks qira’ah yang dibaca

Menganalisis data dan menyimpulkan (1)

7.

Satu kelompok menyajikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain memberikan tanggapan

Menalar

8.

Dengan bimbingan pendidik, peserta didik menyimpulkan struktur isi, qawa’id, dan tujuan komunikasi (pesan) dari teks qira’ah yang dibaca

Menganalisis data dan menyimpulkan (2)

9.

Peserta didik memajang temuannya dalam bentuk poster di papan tempel yang telah disediakan

Mengkomunikasikan

 

Contoh di atas dapat dimodifikasi oleh guru menyesuaikan dengan maharah yang diajarkan maupun metode yang digunakan.

 

  1. Penutup

Pembelajaran bahasa Arab yang didesain dengan pendekatan saintifik dapat memberikan nuansa berbeda dan menarik kepada peserta didik, karena dalam pedekatan saintifik, peserta didik merasakan belajar dalam pengalaman pribadinya masing-masing dengan langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan perkembangan intelektual siswa. Pendekatan ini setidaknya memberikan nuansa baru dan penyegaran dari proses pembelajaran yang selama ini berlangsung. Tugas bagi guru adalah mengembangkan pendekatan tersebut ke dalam metode dan strategi yang disesuaikan dengan kondisi siswa dan lingkungan yang dihadapinya.

 

Daftar Pustaka

 

Abidin, Yunus. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: Refika Aditama, 2014.

 

Daryanto. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta: Gava Media, 2014.

 

Kemendikbud. Konsep Pendekatan Scientific. Jakarta: Kemendikbud, 2013.

 

Mulyasa, E. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:Remaja Rosda Karya, 2013.

 

Permendikbud Nomor 65/2013 tentang Standar Proses

 

Priyatni, Endah Tri. Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara, 2014.

 

www.jpnn.com/read/2016/03/20/364630/Juli-Kurikulum-13-Diberlakukan-Secara-Nasional. Diakses pada Selasa,3 Mei 2016,jam 23.50 WIB. 

 

 

 

[1] E. Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013,(Bandung:Remaja Rosda Karya,2013), hlm. 59

[2] www.jpnn.com/read/2016/03/20/364630/Juli-Kurikulum-13-Diberlakukan-Secara-Nasional. Diakses pada Selasa,3 Mei 2016,jam 23.50 WIB. 

[3] Permendikbud Nomor 65/2013

[4] Daryanto, Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013, (Yogyakarta: Gava Media, 2014), hlm. 51

[5] Yunus Abidin, Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013, (Bandung: Refika Aditama, 2014), hlm. 127

[6] Kemendikbud, Konsep Pendekatan Scientific, (Jakarta: Kemendikbud, 2013), hlm. 2

[7] Disadur dari Endah Tri Priyatni, Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), hlm. 99-100

[8] Kemendikbud, Konsep Pendekatan Scientific, (Jakarta: Kemendikbud, 2013), hlm. 5-17

[9] Yunus Abidin, Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013, (Bandung: Refika Aditama, 2014), hlm. 140-141

[10] Disadur dari Endah Tri Priyatni, Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), hlm. 201-202

MODEL PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI LEMBAGA PENDIDIKAN

Tinjauan atas Tujuan, Jenjang Pengajaran dan Metodologi Pengajaran

 

 Dr. H. Ahmad Ubaedi Fathudin, M.A

  

Pendahuluan

 

            Mengajar bahasa Arab adalah pekerjaan yang berkaitan erat dengan panggilan jiwa.  Ungkapan  ( وروح المدرس أهم من الطريقة والمادة ) menggambarkan keberhasilan guru dalam mencapai target pembelajaran sangat tergantung pada jiwa seorang guru itu sendiri dalam mencintai pekerjaannya. Sedalam apapun penguasaan materi dan sebaik apapun metode yang dipakai dalam mengajar jika dilakukan oleh guru yang tidak memiliki panggilan jiwa mengajar, maka penguasaan materi dan metode tidak ada gunanya.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa asing (termasuk bahasa Arab) yang komprehensif maka metode pembelajaran harus dinamis, akan menjadi suatu musibah jika guru terlanjur konsisten dan “istikomah” dengan satu metode dalam mengajar.

Penentuan metode oleh seorang guru dalam mengajar bahasa Arab tidak muncul secara tiba-tiba. Hal ini harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, jenjang peserta didik, dan media pembelajaran yang tersedia. Kepiawan seorang guru dalam menentukan pilihan metode adalah faktor penentu tercapainya target pembelajaran bahasa Arab.

 

Tujuan Pengajaran Bahasa Arab  

Bahasan tentang tujuan pengajaran disini ditinjau dari bahasa Arab sebagai bahasa kedua, bukan sebagai bahasa ibu. Artinya, pengajaran bahasa Arab yang dimaksudkan adalah pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing. Bahasa Arab untuk orang asing, bukan untuk orang Arab sendiri. Meskipun demikian, boleh jadi ditemukan kesamaan tujuan antara tujuan pengajaran bahasa Arab bagi orang asing dan tujuan pengajaran tersebut bagi orang Arab sendiri.

          Pengajaran bahasa Arab sering dikaitkan sebatas dengan fungsi bahasa Arab sebagai bahasa agama saja, biasanya tujuan utama pengajarannya sebagai sarana pemahaman ajaran Islam. Tujuan pengajaran bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi dunia Internasional sering diabaikan dan belum mendapat perhatian serius. Padahal bahasa Arab memiliki fungsi ganda, selain sebagai bahasa agama juga sebagai bahasa komunikasi Internasional. Hal ini terbukti dijadikannya bahasa Arab menjadi bahasa resmi PBB sejak 1973 di samping bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Spanyol, bahasa Rusia, dan bahasa Cina.

          Kebijakan nasional mengenai pengajaran bahasa asing (termasuk bahasa Arab) memberikan arahan bahwa tujuan pengajaran bahasa asing adalah menumbuhkan keterampilan siswa berbahasa asing, sehingga dengan kemampuan itu ia dapat:

          (1). Berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut;

          (2). Mengenal dan memahami bangsa dan kebudayaan asing tersebut; dan

          (3). Mempelajari ilmu dan kebudayaan asing melalui buku-buku yang ditulis dalam     bahasa asing itu dalam rangka studinya.[1]

          Tujuan pengajaran bahasa asing (termasuk bahasa Arab) adalah agar para pelajar mampu menggunakan bahasa asing tersebut secara aktif ataupun pasif. Kemampuan menggunakan bahasa secara aktif dan pasif tentunya kemampuan dalam empat aspek yakni menyimak (al-Istima’), mengucapkan (al-Kalam), membaca (al-Qiro’ah) dan menulis (al-Kitabah) dengan ketentuan bahwa menyimak dan membaca termasuk dalam kategori pasif dan mengucapkan dan menulis adalah cara aktif menggunakan bahasa.

          Untuk mencapai target standar kompetensi pembelajaran bahasa Arab yang ideal bukanlah hal yang mudah. Beberapa kendala dalam pembelajaran bahasa Arab dapat dikelompokkan kepada tiga pokok: (1) Faktor bahasa yang berkaitan dengan sistem bunyi / shaut, tata bahasa / nahwu dan makna / dalalah serta penulisan yang berbeda dengan bahasa ibu. (2) Faktor lingkungan / bi’ah lughowiyah yang kurang mendukung dalam penerapan bahasa yang dipelajari. (3) Faktor metode karena penggunaan metode yang monoton akan berdampak pada melemahnya minat dan motivasi.[2]

Ibrahim Muhamad ‘Atho merinci berbagai kendala dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai berikut: (1) Karakteristik bahasa Arab meliputi kosa kata, tata bahasa, dan tulisan. (2), Mananejemen yang kurang baik. (3) Kualitas guru bahasa Arab masih dibawah standar. (4) Buku ajar yang tidak mengikuti perkembangan zaman. (5) Sistem ujian yang tidak memenuhi syarat.[3]

 

Pembagian Jenjang Dalam Pengajaran Bahasa Arab

          Belajar bahasa Arab seperti juga halnya belajar bahasa asing yang lain memerlukan waktu yang tidak pendek. Ia perlu tahapan-tahapan yang berkesinambungan yang disebut tingkat/tahap/jenjang/level pembelajaran dimana pada setiap jenjang seseorang akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa sampai pada tujuan yang sempurna.

          Pembagian jenjang dalam pembelajaran bahasa Arab dikenal dengan istilah “Al-mustawa”. Pembagian jenjang tingkatan ini tidaklah terikat dan tidak sebanding lurus dengan urutan jenjang pendidikan formal dimana siswa atau orang itu belajar.  

          Pembagian jenjang pembelajaran bahasa Arab yang umumnya dikenal adalah tiga jenjang/tingkatan yaitu; mustawa ibtida’i/tingkat pemula, mustawa mutawassit /tingkat menengah, dan mustawa mutaqoddim/tingkat lanjutan.

          Perbedaan pada masing-masing tingkat/level ini merujuk pada perbedaan kemampuan pada penguasaan bahasa. Hal itu bisa dibedakan sebagai berikut

  1. Tingkat Ibtida’i adalah masa pengembangan dasar-dasar kemahiran berbahasa.
  2. Tingkat Mutawassit adalah masa pemantapan dasar-dasar kemahiran berbahasa.
  3. Tingkat Mutaqoddim adalah masa dimana seseorang sudah memiliki kelancaran dalam menggunakan bahasa.

            Pada tingkat ibtida’i dan tingkat mutawwasith tujuan pembelajaran bahasa Arab diarahkan untuk tercapainya sasaran dapat aktif menggunakan bahasa secara lisan dan tulisan. Pencapaian tujuan tersebut dicapai dengan menggunakan all in one system atau integrated system atau nidhom al-wahdah yaitu sistem terpadu. Dalam sistem ini, bahasa dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh, saling berhubungan dan berkaitan bukan sebagai bagian-bagian yang terpisah satu sama lain. Oleh karena itu, hanya ada satu mata pelajaran, satu buku, satu evaluasi dan satu nilai hasil belajar. Kelebihan sistem terpadu ini adalah landasan teoritisnya yang kuat, baik teori psikologis, teori kebahasaan maupun teori kependidikan.

          Dipandang dari sudut psikologi, sistem terpadu ini sesuai dengan tabiat atau cara kerja otak dalam memandang sesuatu yaitu dari global ke bagian-bagian variasi bahan dan variasi teknik penyajiannya menghindarkan siswa dari kejenuhan. Fokus kepada satu topik atau satu situasi tapi dengan peninjauan berulang-ulang dari berbagai segi, memperkuat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.

          Dari sudut teori kebahasaan, sistem terpadu ini sejalan dengan tabiat bahasa sebagai sebuah sistem dan sesuai dengan realitas penggunaan bahasa yang memadukan berbagai unsur dan ketrampilan berbahasa secara utuh.

          Dari segi kependidikan (didaktis), sistem terpadu menjamin terwujudnya pertumbuhan kemampuan berbahasa secara seimbang karena semuanya ditangani dalam situasi dan kondisi yang sama, tidak dipengaruhi oleh keberagaman semangat dan kemampuan pengajar.

          Adapun tujuan pembelajaran bahasa Arab tingkat Mutaqoddim memfokuskan pada peningkatan empat kemahiran berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Oleh karena itu sistem terpadu (all in one system) tidak mungkin diterapkan pada tingkat lanjut. Sebab jika diterapkan pada tingkat lanjut (mutaqoddim) kurang dapat memenuhi keperluan pendalaman unsur bahasa atau keterampilan berbahasa tertentu yang memang menjadi kebutuhan nyata dari para pembelajar.

          Sistem yang mungkin bisa digunakan disini adalah sistem terpisah-pisah (separated system) atau nidhom al-furu’. Dalam sistem ini, pelajaran bahasa dibagi menjadi beberapa mata pelajaran. Setiap mata pelajaran memiliki silabus, jam pertemuan, buku, evaluasi dan nilai hasil belajar sendiri-sendiri.

          Pembagian tingkat/level dalam jenjang pembelajaran bahasa Arab tersebut diatas hanyalah gagasan (ijtihad) yang ditawarkan para pakar dan ahli pengajaran bahasa Arab. Hal itu memberi kita gambaran bahwa pembagian jenjang pengajaran dalam pembelajaran bahasa Arab haruslah tetap memperhatikan faktor-faktor utama sebagai dasar landasan pijakan pertimbangannya. Faktor-faktor itu sebagai berikut:

  1. Berapa jumlah ketersediaan waktu untuk pengajaran bahasa Arab
  2. Latar belakang bahasa Arab yang dimiliki calon siswa. Apakah sangat baik? Pas-pasan? Atau mungkin sangat minim?
  3. Faktor-faktor kepribadian siswa yang lain seperti umur, motivasi dan tujuan belajar bahasa Arab juga faktor kedekatan bahasa Arab sebagai bahasa kedua dengan bahasa pertama yang dimiliki siswa.

          Akhirnya fleksibilitas penggunaan pola pembagian pada jenjang pembelajaran bahasa Arab tetap berada di tangan pengajar. Seorang pengajar bahasa Arab punya otoritas untuk menggunakan pola pembagian tersebut, atau menguranginya sesuai dengan kondisi realitas yang dihadapi dalam mengajar.

  

Telaah Ulang Metode-Metode Pembelajaran Bahasa Arab

Muncul dan terpilihnya metode pembelajaran bahasa berkaitan erat dengan pandangan mengenai bahasa itu sendiri sebagai objek kajian. Juga dipengaruhi oleh tujuan pembelajaran bahas sehingga melahirkan metode-metode seperti; Thoriqoh al-Qowa’id wa Tarjamah, at-Thoriqoh al-Mubasyiroh, Thoriqoh al-Qiro’ah, at-Thoriqoh al-Sam’iyah as-Syafahiyah, at-Thoriqoh al-Intiqoiyyah.

Adalah pandangan keliru jika pembelajaran bahasa tidak lebih dari sekedar mata pelajaran yang diajarkan kepada peserta didik dan tidak memiliki tendensi kecuali belajar dan paham bahasa, singkatnya adalah belajar bahasa hanya untuk mengetahui bahasa bukan yang lain. Akhirnya peserta didik hanya tahu bahasa tapi tidak mampu menggunakan bahasa (الطالب يفهم اللغة ولكن لا يستطيع استخدام اللغة).

Pandangan ini melahirkan berbagai kekeliruan dalam menjalankan pembelajaran, seperti siswa harus menghafal kosa kata dan istilah-istilah sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan faktor kesesuaian, juga posisi peserta didik menjadi pasif (hanya menerima) dan kebalikannya guru menjadi aktif (memberi).[4] Akhirnya guru semakin hebat dan pintar (menguasai materi), sementara siswa semakin bosan dan jauh dari pemahaman.

Sedangkan paradigma lain melihat bahasa sebagai pengetahuan yang dapat dijadikan alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Sehingga proses pembelajarannya berpijak kepada arah pendidikan substansif bukan formatif. Karena bahasa adalah fenomena sosial yang mengakar kuat akibat pembiasaan maka dalam proses pembelajaannya harus mengutamakan praktek dari pada teori, harus banyak latihan daripada menghafal kaidah (nahwu saraf). Kemahiran bahasa yang tercakup dalam al-Kalam, al-Istima’, al-Kitabah, dan al-Qira’ah adalah aspek-aspek yang harus diproses dalam latihan dan pembelajaran bahasa.[5]

Bahasa pada umumnya memiliki karakter yang sama. Pertama, bahasa lisan lebih utama daripada bahasa tulis. Kedua, adanya sistem (nizhom) yang berlaku. Ketiga, dapat berpindah dari lingkungan tempat tinggal kepada generasi berikutnya (anak-anak) melalui pembiasaan. Keempat, senantiasa berkembang. Kelima, hanya akan bertahan dan berkembang di tengah masyarakat  (sosial). Keenam, alat berfikir dan media transformasi kebudayaan. Ketujuh, humanis artinya bahasa lisan hanya terjadi pada dunia manusia.[6]

Sebenarnya karakter-karakter ini dapat dijadiakan pijakan dalam membangun konsep untuk sebuah proses pembelajaran bahasa. Karena bahasa pada hakekat aslinya adalah lisan bukan tulisan, maka hal pertama yang menjadi titik fokus pembelajaran bahasa adalah kalam/hiwar.

Karena pengetahuan bahasa dan keterampilannya berpindah secara alami, maka tidak ada pembelajaran bahasa yang dilakukan dalam waktu singkat (jika target pembelajaran adalah penguasaan secara komprehensif bukan parsial). Dalam hal ini, peserta didik (dewasa) yang baru mulai belajar bahasa kedua (level ‘mubtadi’) pada prinsipnya sama dengan level anak-anak yang sedang belajar bahasa ibu.

Bahasa merupakan kumpulan kesepakatan[7] dalam berkomunikasi di tengah suatu masyarakat. Oleh karena itu dalam bahasa terdapat sistem yang mengatur sehingga terjadilah simbol-simbol tertentu untuk makna-makna tertentu pula. Pada level tertentu atau pada saat yang memungkinkan, maka kajian tata bahasa  adalah sesuatu yang sangat urgen untuk diperoses dan dijalankan bagi peserta didik.

Penyusunan perencanaan pembelajaran yang bijak, kemampuan berkomunikasi secara efektif denga para siswa, mengembangkan strategi mengajar yang membelajarkan, kemampuan menguasai kelas, dan melakukan evaluasi secara benar, semuanya adalah hal-hal yang harus dilaksanakan dengan baik oleh seorang guru untuk terwujudnya target pembelajaran.

Dalam pembelajaran bahasa asing, guru harus paham betul seberapa besar perolehan bahasa peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari pendekatan  active learning, sehingga komunikasi akan terbangun dari segala arah (tidak jumud), dengan demikian kemampuan berfikir siswa akan berkembang dan hal ini dapat diihat dari performence mereka dalam setiap tatap muka dan pertemuan.

Teknik umum yang dapat dipakai oleh guru untuk semua level peserta didik: pertama,  guru harus mempersiapkan sebaik mungkin MPR (muqaddimah, presentasi, reviuw) dalam setiap topok bahasan serta tujuan pelajaran harus jelas, cara dan pendekatan yang akan digunakan sudah terpikirkan dengan matang.  Kedua,  guru semaksimal mungkin berkomunikasi dengan bahasa yang diajarkan. Ketiga, pindah ke pelajaran beriutnya setelah yakin bahwa pelajaran sebelumnya sudah dikuasai. Keempat,  buku ajar hanya media untuk mempermuadah, guru harus banyak melakukan improvisasi. Kelima, guru harus banyak memberikan latihan, terutama dalam menggunakan kata tanya dalam bahasa Arab. Keenam, guru harus senantiasa mendorong, memberi semangat dan menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa.[8]

Memunculkan  dan memelihara minat peserta didik dalam belajar merupakan tugas pokok dan utama guru bahasa Arab. Hal ini dapat dilakukan dengan tetap menjaga suasana nyaman dan menyenagkan dalam setiap pertemuan. Jika minat berkurang dan suasana belajar juga tidak kondusif, maka guru yang kompeten dan fasilitas yang memadai tidak akan mendatangkan manfaat apapun.

 

Penutup

Akhirnya guru yang menguasai materi, metode mengajar, dan bisa memotivasi peserta didik sangat menentukan keberhasilan sebuah proses. Hal ini juga harus didukung dengan fasilitas yang baik sehingga laboratorium bahasa dan perpustakaan bahasa merupakan unsur yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran.

 

 

[1] Emzir, Kebijakan Pemerintah Tentang Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah dan Sekolah Umum. Makalah pada Seminar Internasional Bahasa Arab dan Sastra Islam,  Bandung : IMLA, 23-25 Agustus 2007.

[2] D Hidayat dalam Syuja’i, Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab ’Strategi dan Metode Pengembangan Kompetensi’, (Semarang: Wali Songo Press, 2008), hal 4.

[3] Ibrahim Muhammad Atho, al-Marja’ Fi Tadris al-Lughoh al-Arobiyah, (Kairo: Markaz al_kitab Linnasyri, 2001), hal 82.

[4] Jaudat Barokat, Thuruq Tadris al-Lughoh al-Arobiyah, )Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 2002), hal 10

[5] Jaudat Barokat, Thuruq Tadris al-Lughoh al-Arobiyah, hal 11

[6] Ahmad Fuad ‘Ulyan, al-Maharot al-Lughowiyah, Mahaiyatuha wa Thoroiqu Tadrisiha, (Riyad: Dar al-Muslim LinNasyri Wat Tauzi’,1992), hal 24

[7] Sesui dengan definisi bahasa oleh Ibnu Jini yaitu Lafaz-lafaz yang diungkap oleh suatu kaum mengenai maksud-maksud tertentu. Definisi ini menunjukkan bahwa bahasa adalah kesefahaman (kesepakatan) suatu masyarakat tertentu sehingga terjadilah komunikasi . Lihat Jini, al-khoshois, Jilid 1, hal 44, Maktabah Taufiqiyah, Kairo, Republik Arab Mesir.

[8] Azhar Arsyad, Sirru adris al-Lughoh Al-Arabiyah Fil’Ashril Mu’ashir (Khowathir Fikriyah), hal 2-3, Makalah disampaikan dalam kuliah umum di Gedung Pacasarjana UIN ‘Maulana Malik Ibrahim’ Malang, 15 Desember 2008.

PENGUATAN KOMPETENSI PEDAGOGIS SEBAGAI SALAH SATU ARAH PENGEMBANGAN KEILMUAN BAHASA ARAB DI PRODI PBA STAIN PEKALONGAN
Oleh: Muhamad Jaeni, M.Pd, M.Ag•


A.Pendahuluan

Seperti ilmu-ilmu lainnya, ilmu bahasa memiliki cabang keilmuan yang beragam. Sehingga kajian kebahasaan dapat dikatakan cukup luas dan sangat komplek. Secara umum, para ahli bahasa mengkatagorikan ilmu bahasa kepada dua cakupan kajian. Pertama; ilmu bahasa teoritis ('Ilm al-Lughah an-Nadhary).

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree