PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

22 Desember 2017

PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

 

Abdul Basith

IAIN Pekalongan

 

  1. Pendahuluan

Dalam suatu sistem pendidikan, kurikulum itu bersifat dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan agar dapat mengikuti perkembangan dan tantangan zaman. Meskipun demikian, perubahan dan pengembangannya harus dilakukan secara sistematis dan terarah, tidak asal berubah. Perubahan dan pengembangan kurikulum tersebut harus memiliki visi dan arah yang jelas, mau dibawa kemana sistem pendidikan nasional dengan kurikulum tersebut. Sehubungan dengan itu, sejak wacana perubahan dan pengembangan kurikulum 2013 digulirkan, telah muncul berbagai tanggapan dari berbagai kalangan baik yang pro maupun kontra[1]. Setelah mendapat berbagai masukan dari berbagai pihak, dengan berbagai modifikasi dan penyederhanaan, pemerintah optimis seluruh sekolah yang menerapkan K13 akan mudah mengimplementasikannya[2].

Terkait dengan motif pembelajaran bahasa Arab, setidaknya ada dua pandangan. Yang pertama adalah motif agama dengan memandang mempelajari bahasa sebagai sarana untuk mempelajari teks-teks keagamaan dan praktik ritual-ritualnya. Dengan pengetahuan yang memadai seseorang dapat mengetahui hal-hal terkait agama dari sumber yang orisinil. Sedangkan dalam praktik ritual, seseorang mempelajari bahasa Arab untuk dapat menjalankan ibadah shalat dan lainnya. Pandangan kedua memandang bahwa mempelajari bahasa Arab tidak berbeda dengan mempelajari bahasa asing lainnya, yaitu agar seseorang dapat berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Terlebih bahasa Arab merupakan salah satu bahasa internasional yang secara resmi digunakan dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Belajar bahasa Arab masih disajikan dengan model yang terkesan kaku, dengan menampilkan hafalan-hafalan yang panjang dan membosankan. Meskipun pembelajaran bahasa dapat dipastikan dengan cara menghafal sesuatu yang baru, tetapi bisa disajikan dengan model dan pendekatan yang memberikan pengalaman bagi peserta. Konsep belajar yang ditawarkan oleh kurikulum 2013, bisa menjadi harapan baru bagi dunia pembelajaran. Konsep pembelajaran terintegrasi dalam tiga aspek; sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.” Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa” (Pedoman K 13). Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik  (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

 

  1. Prinsip Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah berlaku sebelumnya. Titik perbedaan antara keduanya adalah titik tekan pembelajaran dan cakupan materi yang diberikan kepada peserta didik. Kurikulum 2013 berusaha memadukan antara kemampuan sikap, ketrampilan dan pengetahuan. Dengan demikian, sikap dan ketrampilan menjadi prioritas utama dari pada pengetahuan. Meskipun demikian, harapannya ketiga kemampuan tersebut dapat berjalan seimbang dan beriringan sehingga pencapaian pembelajaran dapat berhasil dengan maksimal.

Dalam rangka tujuan tersebut, pemerintah menetapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang dapat dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan pembelajaran:

  1. Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu
  2. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah
  3. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar
  4. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi
  5. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pebelajar sepanjang hayat
  6. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan(ing ngarsa sung tuladha), membangun kemauan (ing madya mangun karsa), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani)
  7. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat
  8. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas
  9. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran[3].

 

  1. Hakikat Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

            Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan peran serta peserta didik secara aktif dalam mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi dan menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan[4]. Yunus Abidin-setelah mengemukakan berbagai definisi dari para ahli-menyimpulkan bahwa pendekatan saintifik adalah model pembelajaran yang dilandasi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran yang diorientasikan guna membina kemampuan siswa memecahkan masalah melalui serangkaian aktifitas inkuiri yang menuntut kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif dan berkomunikasi dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa[5]. Penerapan model ini diharapkan akan mampu menghasilkan para peneliti muda di masa yang akan datang. Harapan ini tentu saja bukan sekedar isapan jempol karena pembelajaran yang dialami siswa senantiasa melibatkan siswa untuk melakukan kegiatan penelitian walaupun dalam konteks yang sesederhana sekalipun.  

Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi informasi dari guru sebesar 10 persen setelah lima belas menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen[6].

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Berpusat pada siswa
  2. Melibatkan ketrampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep , hukum atau prinsip
  3. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khusunya ketrampilan berpikir tingkat tinggi
  4. Dapat mengembangkan karakter siswa[7]

Langkah Pembelajaran

Karakter yang dikembangkan

Mengamati

Melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi

Menanya

Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat

Mengumpulkan informasi/eksperimen

 

Mengembangkan sikap teliti, jujur,sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.

Mengasosiasikan/ mengolah informasi/menalar

 

Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin,  taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan

Mengko-munikasi-kan

 

Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

 

 

  1. Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk jenjang SMP/MTs dan SMA/MA/SMK atau yang sederajat dilaksanakan menggunakan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

 

Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.” Ranah keterampilan  menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.” Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. 

Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi  tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan ilmiah pembelajaran disajikan berikut ini.

  1. Mengamati

Mengamati adalah kegiatan mengidentifikasi ciri-ciri objek tertentu dengan alat inderanya secara teliti. Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.

            Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat), mencium, dan meraba.

 

  1. Menanya

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.

Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal.

Kegiatan menanya dalam pembelajaran dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati, atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik)

 

  1. Mencoba/mengumpulkan informasi

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian/ aktivitas dan wawancara dengan nara sumber.  

 

  1. Menalar

Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.  Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.

Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan  antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu[8].

 

  1. Menganalisis Data dan Menyimpulkan

Kemampuan menganalisa data adalah kemampuan mengkaji data yang telah dihasilkan. Kemampuan menyimpulkan merupakan kemampuan membuat intisari atas seluruh proses kegiatan yang telah dilakukan.

 

  1. Mengkomunikasikan

Kemampuan ini adalah kemampuan menyampaikan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan baik secara lisan maupun tulisan. Dalam hal ini, peserta didik harus mampu menulis dan berbicara secara komunikatif dan efektif[9].

Dalam dataran praktis, keenam langkah tersebut dilaksanakan oleh guru dalam kegiatan inti yang dapat digambarkan sebagai berikut[10]:

 

No

Kegiatan Inti

Keterangan

1.

Peserta didik membaca teks qira’ah dalam hati (qira’ah shamitah)

Mengamati

2.

Tiap peserta didik mengajukan satu pertanyaan tentang teks qira’ah (terjemah kata, terjemah ungkapan/idiom, istilah, qawaid maupun isi teks)

Menanya

3.

Tiap peserta didik menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik yang lain secara bergantian

4.

Pendidik menyatakan bahwa teks qira’ah memiliki struktur isi, qawa’id, dan tujuan komunikasi (pesan) yang berbeda dengan teks yang lain. 

 

5.

Melalui diskusi kelompok, peserta didik dengan bimbingan pendidik mencoba mengidentifikasi struktur isi, qawa’id, dan tujuan komunikasi (pesan) dari teks qira’ah yang dibaca

Mencoba/mengumpulkan data

6.

Melalui diskusi kelompok, peserta didik dengan bimbingan pendidik mendiskusikan dan merumuskan temuannya tentang struktur isi, qawa’id, dan tujuan komunikasi (pesan) dari teks qira’ah yang dibaca

Menganalisis data dan menyimpulkan (1)

7.

Satu kelompok menyajikan hasil diskusinya, sedangkan kelompok lain memberikan tanggapan

Menalar

8.

Dengan bimbingan pendidik, peserta didik menyimpulkan struktur isi, qawa’id, dan tujuan komunikasi (pesan) dari teks qira’ah yang dibaca

Menganalisis data dan menyimpulkan (2)

9.

Peserta didik memajang temuannya dalam bentuk poster di papan tempel yang telah disediakan

Mengkomunikasikan

 

Contoh di atas dapat dimodifikasi oleh guru menyesuaikan dengan maharah yang diajarkan maupun metode yang digunakan.

 

  1. Penutup

Pembelajaran bahasa Arab yang didesain dengan pendekatan saintifik dapat memberikan nuansa berbeda dan menarik kepada peserta didik, karena dalam pedekatan saintifik, peserta didik merasakan belajar dalam pengalaman pribadinya masing-masing dengan langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan perkembangan intelektual siswa. Pendekatan ini setidaknya memberikan nuansa baru dan penyegaran dari proses pembelajaran yang selama ini berlangsung. Tugas bagi guru adalah mengembangkan pendekatan tersebut ke dalam metode dan strategi yang disesuaikan dengan kondisi siswa dan lingkungan yang dihadapinya.

 

Daftar Pustaka

 

Abidin, Yunus. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: Refika Aditama, 2014.

 

Daryanto. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta: Gava Media, 2014.

 

Kemendikbud. Konsep Pendekatan Scientific. Jakarta: Kemendikbud, 2013.

 

Mulyasa, E. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:Remaja Rosda Karya, 2013.

 

Permendikbud Nomor 65/2013 tentang Standar Proses

 

Priyatni, Endah Tri. Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara, 2014.

 

www.jpnn.com/read/2016/03/20/364630/Juli-Kurikulum-13-Diberlakukan-Secara-Nasional. Diakses pada Selasa,3 Mei 2016,jam 23.50 WIB. 

 

 

 

[1] E. Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013,(Bandung:Remaja Rosda Karya,2013), hlm. 59

[2] www.jpnn.com/read/2016/03/20/364630/Juli-Kurikulum-13-Diberlakukan-Secara-Nasional. Diakses pada Selasa,3 Mei 2016,jam 23.50 WIB. 

[3] Permendikbud Nomor 65/2013

[4] Daryanto, Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013, (Yogyakarta: Gava Media, 2014), hlm. 51

[5] Yunus Abidin, Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013, (Bandung: Refika Aditama, 2014), hlm. 127

[6] Kemendikbud, Konsep Pendekatan Scientific, (Jakarta: Kemendikbud, 2013), hlm. 2

[7] Disadur dari Endah Tri Priyatni, Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), hlm. 99-100

[8] Kemendikbud, Konsep Pendekatan Scientific, (Jakarta: Kemendikbud, 2013), hlm. 5-17

[9] Yunus Abidin, Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013, (Bandung: Refika Aditama, 2014), hlm. 140-141

[10] Disadur dari Endah Tri Priyatni, Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), hlm. 201-202

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree